Oleh: ankopala | 29 November, 2007

Leave No Trace

Prinsip ‘leave no trace’ pertamanya mungkin tidak terlihat penting, tetapi nilainya sangat terlihat ketika digabungkan dengan pengaruh dari jutaan pengunjung kealam bebas. Satu lokasi perkemahan yang tidak tepat atau perapian mungkin tidak berarti, tetapi ribuan hal semacam itu perlahan akan mengurangi kenikmatan beraktifitas di alam bebas. ‘Leave no trace’ sangat layak untuk dijalankan.

Leave No Trace atau beranjak tanpa meninggalkan jejak berarti jika seseorang mengunjungi tempat yang baru saja anda tinggalkan, maka tidak ada bekas yang mengindikasikan anda pernah disitu. Berikut adalah petunjuk praktis untuk ‘Leave No Trace’ secara dasar dan mungkin anda telah melakukannya sebelumnya. Petunjuk ini hanya langkah awal. Selanjutnya andalah yang melakukannya.

• Rencanakan dan persiapkan: perencanaan perjalanan dan persiapan yang benar membantu pengunjung alam bebas untuk mencapai tujuannya dengan aman dan dapat dinikmati dan pada saat yang sama memberikan kerusakan yang minimal kepada sumber daya alam dan budaya. Pengunjung yang tidak siap, dihadapkan pada situasi yang tidak diinginkan, sehingga sering berakhir pada pemecahan yang berdampak besar pada alam dan membawa resiko pada diri mereka sendiri.

Perencanaan yang buruk sering berakibat pada;
o Perjalanan beresiko tinggi, karena pengunjung tidak mendapatkan informasi mengenai kondisi geografis dan cuaca.
o Lokasi berkemah yang tidak tepat karena pengunjung tidak merencanakan waktu yang cukup untuk mencapai tujuan yang direncanakan.
o Lokasi pembuatan api atau sampah yang berlebihan karena kegagalan perencanaan makanan atau alat yang tidak tepat


• Berkemah dan berjalan pada permukaan yang kuat: kerusakan pada tanah terjadi ketika permukaan vegetasi atau komunitas organisme terinjak dan tidak dapat memperbaiki diri kembali. Daerah yang rusak ini dapat mengakibatkan jalur tidak dapat digunakan, serta erosi daerah perkemahan dan tanah.
Haruskah kita mengkonsentrasikan aktifitas atau justru menyebar aktifitas?
Di daerah yang sering digunakan pengunjung harus berusaha mengkonsentrasikan kegiatan. Gunakan jalur setiap memungkinkan dan pilih tempat berkemah di tempat yang sering digunakan, sehingga kerusakan lebih jauh dapat dicegah.

Di area yang jarang atau belum pernah digunakan pengunjung harus menyebar aktifitas. Gunakan jalur yang berbeda ketika berjalan diluar jalur yang ada untuk menghindari terciptanya jalur baru yang mengakibatkan erosi. Ketika berkemah sebar tenda dan peralatan masak serta pindahkan lokasi tenda setiap hari untuk menghindari terciptanya lokasi perkemahan yang terlihat permanen.

Panduan ini dapat diterapkan pada hampir kondisi alpine dan mungkin berbeda untuk area lainnya, seperti di gurun. Periksa jika tidak yakin.

• Bawa masuk, Bawa keluar

Perkataan yang sederhana namun efektif untuk membuat pengunjung membawa pulang sampah. Tidak ada alasan orang tidak dapat membawa kembali barang-barang yang mereka bawa ke lokasi. Walaupun kebanyakan sampah di lokasi alam bebas tidak tampak berarti dalam jangka panjang pada kondisi ekologi suatu daerah, namun membawa dampak yang sangat mengganggu bagi pengunjung lain. Sampah menghilangkan keaslian alamiah dari suatu daerah.

• Buang dengan benar apa yang tidak bisa dibawa keluar. Penggiat alam bebas menhasilkan sampah alamiah dan air buangan yang harus dibuang secara benar.

Air Buangan: Hindari penumpukan pada sumber air alamiah, sebar air cucian piring jauh dari mata air, aliran sungai dan danau. Minimalisir kebutuhan untuk membawa kembali sisa makanan dengan melakukan persiapan makanan dengan baik. Hindari pengguanaan sabun.

Kotoran manusia: Penanganan kotoran manusia dengan baik mencegah penyebaran penyakit, gangguan pada pengunjung lain, dan mempercepat dekomposisi. Lubang kucing, kedalaman 6-8 inch dan 200 feet dari sumber air, adalah cara termudah dan praktis untuk membuang feces.

• Tinggalkan apa yang anda temui: Berikan pada orang lain ‘keasyikan menemukan’; tinggalkan batu, tanaman dan artefak arkeologis dan obyek lainnya seperti saat ditemukan.
Perkecil perubahan lokasi dengan tidak menggali selokan mengelilingi tenda atau membangun kursi bersandar atau meja. Hindari memaku ke pohon, menggergaji atau mengikat pada batang atau akar. Jika anda membersihkan area dari batu dan ranting, kembalikan mereka sebelum meninggalkan lokasi.

Di daerah yang mempunyai dampak besar, diperlukan pembersihan lokasi dan membongkar semua kelengkapan yang dibuat seperti batu pembatas perapian, balok kayu untuk duduk atau meja. Tolong diingat bahwa tempat berkemah yang baik ‘ditemukan’ bukan ‘dibuat’.

• Penggunaan dan dampak minimum api. Beberapa orang tidak berpikir bagaimana berkemah tanpa api. Namun kealamian berbagai daerah telah menurun disebabkan penggunaan api yang berlebihan dan permintaan akan kayu bakar. Kompor ringan sangat penting dalam perkemahan yang berdampak rendah dan meninggalkan ketergantungan pada api unggun. Kompor sangat cepat dan mengurangi kebutuhan akan kayu bakar. Jika membuat api, pertimbangan terpenting adalah potensi kerusakan.

Tempat terbaik untuk membuat api adalah ditempat yang sudah pernah dibuat api, di tempat perkemahan yang sudah ditentukan. Usahakan tidak membuat api di ditempat yang memiliki sedikit kayu di ketinggian, di daerah yang telah banyak digunakan, atau di gurun. Api yang dibuat oleh seseorang yang menjalankan ‘leave no trace’ tidak meninggalkan tanda bahwa api pernah dibuat.

Disarikan dari http://www.indobackpacker.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: