The Journey…

Ankopala… Ya Ankopala, Itu adalah nama kelompok pecinta alam yg gw n temen2 gw diriin sebagai wadah kita dalam menggiati olah raga naek gunung. Ankopala “resminya” dibentuk tanggal 17 November 2004 di alun-alun Surya Kencana TNGP. Pada saat itu, kami rombongan dari Kebon kopi yang berjumlah 8 orang berangkat untuk mendaki.

Pendakian ini telah kami rencanakan jauh2 hari sebelumnya, maklumlah ini adalah pertama kalinya kami naek gunung, kecuali satu orang, Bholenk. Bholenk udah sering naek gunung, tapi bukan bareng kita2, dia bareng organisasinya di sekolah. Bholenk juga sekaligus yang menjadi leader kami saat itu.

Tim kami terdiri dari 8 orang, yaitu, Bholenk, Gw, Azis, Chaunk, Irax, Ari, Sonny, n Topan. Perjalanan dimulai 3 hari setelah Iedul Fitri, yaitu tanggal 16 November 2004. KAmi berangkat ba’da Ashar dari basecamp Ankopala di Kb. Kopi. Tujuan pertama kami adalah pertigaan Kampung Utan, dengan menumpang angkot S-10. Dari Kampung Utan (Ciputat) kami melanjutkan perjalanan menuju terminal Kampung Rambutan dengan menumpang Bus Koantas Bima 510. Di ruas jalan Tol Lingkar luar jakarta hari sudah beranjak gelap. Akhirnya kami turun di jembatan jalan baru. Di jembatan ini kami menunggu bus yang menuju Cipanas. Kami cukup lama menunggu bus di tempat ini, kira-kira satu jam. Selepas Isya baru kami mendapatkan bus.

Kami naik bus jurusan Bandung via Puncak, kami turun di pasar Cipanas, setelah itu menyewa angkot kecil menuju Base Camp Gn. Putri. Kami makan di Warung Mang Uti, dan menumpang tidur di rumahnya yg sederhana. Pagi-pagi jam 7 kami mulai Pendakian. Ini pendakian yg pertama bagi sebagian besar kami. Hanya Bholenk yg sudah cukup sering mendaki gunung, karena itulah tim kami dipimpin oleh si Bholenk.

Pendakian diawali dengan melalui ladang penduduk, di sini terdapat pos penjagaan TNGP. Para pendaki diwajibkan melapor di pos ini. Setelah pos penjagaan masih terdapat ladang penduduk yg cukup luas. Setelah sekita 15 – 20 menit  berjalan kami baru menemui batas hutan (hutan pinus) dengan ladang penduduk. Di perbatasan ini terdapat kali kecil yg airnya dingin dan cukup jernih. Kami mengisi tempat2 air kami yg kosong di sini, karena kata Bholenk, sampe alun-alun SK nanti nggak ada air. Trek dari tempat kami menginap sampe batas kali kecil ini, bagi kami yg baru pertama kali mendaki terasa cukup melelahkan, terutama karena menggendong carrier yg berat.

Jalur Pendakian Gn. Gede melalui Gn. Putri ini cukup terjal, jarang sekali kami temui trek2 datar (atau kami menyebutnya dengan trek bonus) dari pos penjagaan sampai Alun2 SK treknya menanjak terus. Sempat kami melihat seorang gadis yg sudah sangat kelelahan dan puca tampangnya di pos 4. Jalur Putri ini terdapat empat pos, rata-rata perjalanan yg ditempuh dari basecamp/pos penjagaan sekitar 5 – 6 jam.

Di antara pos 4 dan pos 5, kedua paha saya sudah mulai mengalami kram. Sakit sekali rasanya, kami istirahat di sana sambil mengistirahatkan kedua kaki dan punggung saya yg sudah terasa sakit semua. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan menuju alun2 SK. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam yg buat saya terasa cukup berat, kami akhirnya sampai di alun-alun Surya Kencana….

SUBHANALLAAH…!!! ALLAAHU AKBAR…!!! itu lah kata2 saya yg terucap ketika pertama kali melihat keindahan alun-alun SK. Jujur, saat itu saya merasa berada di tempat lain, di luar planet ini. Alun2 SK merupakan suatu padang rumput datar yang membentang dari timur hingga ke barat. Banyak sekali terdapat bunga yg hanya tumbuh di daerah pegunungan, yaitu bunga edelweiss… Sungguh, sangat senang berada di sana. Segala keletihan, capek, pegel, semuanya seakan hilang begitu kami tiba di alun2 SK ini. Kami cukup lama menikmati keindahan padang rumput ini, menghabiskan beberapa batang rokok kretek, menikmati cemilan sisa lebaran yg kami bawa, bersandar di batu, ngobrol2, semuanya terasa lebih nikmat di sini.

Selesai menikmati suasana alam ini, kami mencari air di ujung sebelah barat alun2 ini. Setelah selesai mencari air, perut saya terasa sangat sakit. TIDAAAAAAAKKK… akhirnya, ditengah2 padang rumput dan rimbunan bunga edelweiss, saya melepaskan penderitaan yg sudah cukup lama saya tahan itu, huehehehe legaaaa rasanya… Kau tahu kawan? saya terpaksa meninggalkan cd saya di rimbunan edelweiss itu…

Tak lama, cuaca mulai memburuk, langit sudah mendung, dan angin mulai berhembus kencang. Kami segera membangun tenda. Tenda yg kami bawa cukup parah. Kami menyebutnya tenda pramuka, tenda yg hanya diikatkan pada dua buah tiang atau pohon, tanpa rangka. Huff… kami umpel2an di dalam tenda. Selepas maghrib badai datang, hujan, angin, kabut, semua jadi satu. Tau apa yg terjadi dengan tenda kami?? Yupz, tenda kami bocor di sana-sini, terpaksa kami tidak tidur semalaman, kalaupun bisa tidur, itu dengan cara duduk, sungguh posisi tidur yg tidak mengenakkan, persis seperti sebagian orang2 di Masjid waktu hari Jum’at, bersusah payah menahan kantuk.

Kami istirahat sebisanya, tidak tau badai berhenti jam berapa. Pagi2 sekali kami dikejutkan oleh orang yang melongok ke tenda kami. Orang itu berkata “A, nasi uduk A”. Spontan kami semua bengong. ” Kenapa Mang?” kata salah seorang dari kami. “Ini A, ada nasi uduk, sebungkus tiga ribu”. Waduh! pagi2 buta, di atas gunung, di sisa kabut dan dingin badai semalam ada yg jualan nasi uduk. Tanpa pikir panjang, akhirnya kami beli delapan bungkus. Kau tau seperti apa bentuknya nasi uduk itu kawan? Hmmm… mungkin nasi uduk itu seukuran 1/7  nasi uduk di warung2 biasa, dengan tambahan beberapa helai bihun, sedikit sambel, n seukuran 3×3 cm telor dadar…

Dari situ situ kami dapat pelajaran berharga, betapa susahnya orang mencari nafkah. Mereka rela naek gunung, di pagi buta, di cuaca dingin. Huff.. sungguh hidup memang tidak mudah buat mereka. Kau tau apa yg membuat mereka sekuat itu kawan? Keluarga, yupz, keluargalah yg membuat mereka kuat.

Setelah sarapan nasi uduk, kami segera berkemas untuk mendaki puncak Gede yang mempunyai ketinggian 2958 mdpl (meter dari permukaan laut). Untuk mendaki puncak Gede, kami berjalan menuju sisi barat alun-alun. Setelah tiba di sisi barat alun-alun, kami istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga. Setelah dirasa cukup, kami mulai mendaki puncak Gede. Sepanjang perjalanan menuju puncak, di sekitar kami hanya ada pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi. Perjalanan ke puncak ini cukup melelahkan, karena sama sekali tidak ada bonus, jalur terus menanjak dari alun-alun hingga puncak. Lebih kurang 45 menit kami mendaki, akhirnya sampai juga di puncak Gede.

Subhanallooh… Alhamdulillaah…

Akhirnya, setelah sekian lama berjalan, kami sampai juga di puncak ini. Rasa syukur, senang, gembira, semuanya campur aduk begitu kami tiba di puncak ini. Di ketinggian 2958 mdpl ini, saya sungguh takjub dengan ciptaan Yang Kuasa, begitu indahnya. Ada orang yg tanya, ngapain si loe capek2 naek gunung? gw jawab, memang capek naek gunung, capeeeek banget, tapi kalo loe pengen ngelihat pemandangan yg indah, loe harus mencapai tempat yg tinggi, salah satunya ya dengan naek gunung. Segala capek, pegel, sakit, laper, sampe kebelet e’ek bakal ilang kalo loe udah sampe puncak, trust me..!!! ^^

Rupa dari puncak Gede ini adalah seperti sebuah jalan setapak yang cukup panjang, membentang hampir setengah lingkaran mengitari kawah yg sukup luas dan masih aktif. Diseberang kawah Gede ini, terlihat puncak Gunung Pangrango yg cukup tenang namun gagah dan indah sekali. Kami bertekad, suatu hari nanti kami akan mendaki ke sana.

Di puncak Gede, ada cerita tentang teman kami, kami sering memanggil namanya dengan Khelink, kenapa Khelink? karena emang kulitnya yg sedikit item n keling, hehehe… Sebelum kami berencana naek Gunung Gede ini, si Khelink lagi jatuh Cinta, Bidadari Kodok nama perempuan itu. Di Puncak ini, dia menuliskan nama perempuan itu di kaosnya. Dia bercita-cita membawa pujaan hatinya itu bersama2 ke Puncak ini, (co cweeeet..), kau tahu kawan kurang lebih setahun berselang, dia berhasil membawa pujaan hatinya itu ke tempat ini, ke puncak gunung ini. Sampai sekarang mereka berdua masih pacaran, n katanya si tahun 2012 mereka mau merit, amiin. Ane doain semoga jadi kawan.

Sekitar setengah sampe satu jam kami menikmati puncak ini. Walaupun cuaca saat itu berkabut, tak mengurangi kegembiraan dan rasa syukur kami. Selepas waktu dzuhur, kami beranjak untuk turun. Kami turun tidak melalui jalur Gn. Putri, melainkan melalui jalur Cibodas. Setelah melipir jalan setapak puncak Gede, kami segera masuk hutan, namun di sini pohon2nya masih terdiri pohon2 kecil, saya lupa namanya. Katanya daun muda dari pohon ini bisa buat survival di gunung/hutan.

Di jalur turun ini kami menemui sebuah tanjakan atau lebih tepatnya turunan, karena kami sedang menempuh perjalanan turun,hehehe. Nama bekennya adalah tanjakan setan, yupz tanjakan setan. Kenapa dinamakan demikian? nama yg cukup seram bukan? Sejarahnya begini: dulu ada pendaki yg naek ke puncak Gede melalui jalur Cibodas, dan harus melalui tanjakan ini. Karena saking (ada yg tau saking ga?) sulitnya tanjakan ini, pendaki itu bilang “Setan Nih Tanjakan..!!” Jadilah tanjakan itu dinamakan tanjakan setan, hehehe Just Kidding Bro.. Honestly, sampe sekarang ane belom tau jawabannya, tapi mungkin karena tanjakan ini cukup susah untuk dilalui, kemiringannya hampir 90 derajat, makanya dinamakan tanjakan setan… maybe, who knows? ^^

Tidak lama dari Tanjakan Setan, kami tiba di pos Kandang Badak. What..!!?? Kandang Badak?? Yupz, Kandang Badak. Kenapa dinamain Kandang Badak? Hmmm, tanya mbah Google aja ya kawan, dia sakti lho, bisa tau apa aja… Pos ini merupakan perbatasan antara jalur ke puncak Gede dan puncak Pangrango. Sumber air terakhir bagi yang ingin ke puncak ada di pos ini. Di pos Kandang Badak juga terdapat sebuah gubuk yg berdinding batu, lumayan lah buat berlindung dari hujan kalo cuaca lagi buruk. Kami istirahat di sini sekitar setengah jam, masak indomie rebus tanpa telor, ngabisin satu dua batang rokok kretek, huaaaahhhh… wuenak tenaaaan…

Setalah cukup istirahat dan perut yang sedikit terisi, kami melanjutkan perjalanan menuju Pos Kandang Batu, dan Pos Air Panas. Di pos Air Panas kami harus ekstra hati2. Kami harus melalui air terjun air panas ini, suhu nya cukup panas kawan. Saya tahu karena saya pernah merasakan panasnya air terjun ini ketika kaki saya terpeleset di batu yang licin. Kami istirahat sebentar di pos air panas, selanjutnya berangkat lagi menuju pos pertigaan Cibeureum.

Kami tidak istirahat di pertigaan ini, tapi kami belok kiri untuk melihat air terjun Cibeureum. Air terjun Cibeureum ini terdiri dari tiga buah air terjun yg masih sangat alami pada saat itu. Kami istirahat di sini, dan mengambil beberapa buah gambar. Selesai istirahat, kami lanjutkan lagi perjalanan turun menuju pos telaga biru. Konon katanya, telaga ini bisa berubah warna menjadi biru disaat-saat tertentu. Kami istirahat sebentar di sini. Hari sudah sore, kami harus segera sampai bawah, sampai Cibodas. Sampai di Pos Cibodas, hari sudah gelap, setelah melapor di pos ini, kami segera mencari tempat menginap. Akhirnya kami dapat tempat menginap di Warung Mang Idi, warung yg cukup sederhana dan sepertinya diperuntukan untuk para pendaki dan bikers yg ingin menginap.

Di “penginapan” ini kami bersih2, makan, dan istirahat alias tidurrrrrrrrr….

Jum’at pagi, kami bangun solat subuh. Selesai mandi dan sarapan kami segera berkemas untuk turun menuju jalur Jakarta-Bandung. Karena uang yg sudah menipis, akhirnya kami memilih jalan kaki menuju Jalan raya, sambil mencari Masjid untuk solat Jum’at. Kau tahu kawan, berapa jauh jalur dari jalan raya ke warung mang Idi? Cukup jauh kawan, dan kami menempuhnya dengan jalan kaki. Pegal di paha, betis dan pundak belum lagi hilang, kami harus menempuh perjalanan turun yg cukup jauh.

Saya cukup salut dengan teman saya yg bernama Sony, kenapa? Karena dia dari rumah sampai saat turun ini memakai sandal. Ah biasa aja kalo pake sandal… Tapi, kau tahu sandal apa yg dia pakai? Sandal rheumatik kawan, iya benar, saya nggak bohong, dia pakai sandal rheumatik sepanjang perjalanan kami. Nggak bisa saya bayangkan, apa yg dia rasakan di kakinya pada saat itu.

Selesai sholat Jum’at, kami melanjutkan perjalanan turun ke jalan raya Puncak. Sampai di pinggir jalan raya puncak, kami seperti gelandangan. duduk “ndeprok” di pinggir jalan. Lama kami menunggu bus yg ke Jakarta, tidak ada satu pun bus yg bisa kami naiki, maklumlah, masih dalam suasana lebaran. Akhirnya kami jalan lagi menuju pertigaan Kota Bunga, hufff… Cukup jauh kawan.

Setelah lelah menanti bus jurusan Jakarta yg tak kunjung kami dapat, akhirnya kami memutuskan naek angkot yg menuju Ciawi. Sampai Ciawi, kami melanjutkan naek angkot yang menuju Bogor. Selanjutnya, kami naek bus Pusaka menuju Ciputat, dan akhirnya naek angkot ke Kebon Kopi.

Sampai Kebon Kopi, sudah malam. Kami istirahat sebentar dan selanjutnya pulang ke rumah masing-masing untuk makan, mandi, dan tidurrrrrrrrrrr….

Banyak pelajaran yg bisa kami ambil dari perjalan ini. Betapa susahnya orang2 di desa mencari makan, betapa berharganya sahabat dan persahabatan, betapa besar dan indahnya ciptaan Yang Kuasa, betapa kecilnya kita di alam ini.

Sekarang kalo ada yg nanya, “ngapain siy loe capek naek gunung, udah naek turun lagi…???” Kami akan jawab:

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” -Soe Hok Gie-

Hufff… akhirnya selesei juga. Ntar ane terusin deh kisah perjalanan Ankopala ke gunung2 yg lain.

Thanks yg udah mampir n baca, kasih komen ya… ^^

Responses

  1. cuy…ndaki di sini aja..
    uenak’e poollll..
    keep macoroti ONly ye..,

    • Ndaki apaan tuh Bro???

  2. salam dari wanasetya.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: